abstrak yang sulit dipahami oleh sebagian besar siswa. Atom tidak dapat diamati langsung oleh siswa. Kenyataan ini mengakibatkan siswa kesulitan dalam memahami konsep teori atom secara menyeluruh. Karena bersifat abstrak ini banyak dari siswa yang tidak benar-benar meyakini keberadaan atom. Berpijak pada konsep Vernom, bahwa pembelajaran dengan mempergunakan teknologi audio-visual akan meningkatkan kemampuan belajar sebesar 50%, daripada dengan tanpa mempergunakan media sehingga kelompok kami membuat sebuah alat peraga guna membuat pembelajan yang abstrak ini menjadi nyata, dan untuk selengkapnya bisa di lihat pada video ini https://www.youtube.com/watch?v=ClCuTkVYoik
Media Pembelajaran Kimia
Minggu, 19 Maret 2017
Minggu, 05 Maret 2017
Pertemuan 6 Presentasi E-learning Kimia Hasil Pengembangan
E-learning
Sebagai seorang guru haruslah mampu mengikuti perkembangan teknologi yang ada, guna mempermudah dalam pengajaran dan mendapatkan hasil yang optimal bagi mata pelajaran yang diampunya. Penerapan dari e-learning pada semua mata pelajaran itu sendiri telah berlangsung sejak 10 tahum lamaya. Semua guru tidak dapat lagi menghindari hal ini. Mau tidak mau, suka tidak suka, semua guru haruslah mampu menggunakan teknologi yang ada dan harus mampu menrapkannya untuk mata pelajaran yang ia ampu.banyak situs E-learning yang dapat kita gunakan sebagai seorang guru dalam kegiatan belajar mengajar. berikut merupakan contoh e-learning dalam situs www.edmodo.com




PERTEMUAN 5 PRESENTASE MEDIA PEMBELAJARAN KIMIA HASIL PENGEMBANGAN
Sabtu, 25 Februari 2017
PERTEMUAN 4 PENGEMBANGAN E-LEARNING DALAM PEMBELAJARAN KIMIA
A.
Definisi E-learning
E-learning adalah suatu sistem
atau konsep pendidikan yang memanfaatkan teknologi informasi dalam proses
belajar mengajar. Adapun beberapa definisi dari e-learning diantaranya:
1.
Pembelajaran
yang disusun dengan tujuan menggunakan sistem elektronik atau komputer sehingga
mampu mendukung proses pembelajaran
2.
Proses pembelajaran jarak jauh dengan menggabungkan
prinsip-prinsip dalam proses pembelajaran dengan teknologi
3.
Sistem pembelajaran yang digunakan sebagai sarana untuk
proses belajar
mengajar yang dilaksanakan tanpa harus bertatap muka secara langsung
antara guru dengan siswa
mengajar yang dilaksanakan tanpa harus bertatap muka secara langsung
antara guru dengan siswa
B.
Karakteristik E-learning
Karakteristik E-learning menurut Nursalam (2008:135) adalah sebagai berikut:
Karakteristik E-learning menurut Nursalam (2008:135) adalah sebagai berikut:
1.
Memanfaatkan jasa teknologi elektronik
2.
Memanfaatkan keunggulan komputer (digital media dan
computer networking)
3.
Menggunakan bahan ajar yang bersifat mandiri (self
learning materials) kemudian disimpan di komputer, sehingga dapat diakses oleh
doesen dan mahasiswa kapan saja dan dimana saja.
4.
Memanfaatkan jadwal pembelajaran, kurikulum, hasil kemajuan
belajar, dan hal-hal yang berkaitan dengan administrasi pendidikan dapat
dilihat setiap saat di komputer.
C. Kelebihan
Dan Kekurangan Sistem Pengajaran E-Learning
Jika dikaitkan antara kebutuhan
pembangunan perpustakaan digital dengan tujuan penyelenggaraan e-learning, maka harus diperhaikan beberapa
kelebihan dan kekurangan dari e-leraning. Diantara beberapa kelebihan e-learning, yaitu:
1. Lebih mudah diserap, artinya menggunakan fasilitas
multimedia berupa gambar, teks, animasi, suara, dan video.
2. Jauh lebih efektif
dalam biaya, artinya tidak perlu instruktur, tidak perlu minimum audiensi, bisa
dimana saja, bisa kapan saja, murah untuk diperbanyak.
3. Jauh lebih ringkas, artinya tidak banyak formalitas kelas,
langsung pada pokok bahasan, mata pelajaran sesuai kebutuhan.
4. Tersedia 24 jam/hari – 7 hari/minggu, artinya penguaasaan
materi tergantung pada semangat dan daya serap siswa, bisa dimonitor, bisa
diuji dengan e-test.
Disini kita dapati secara sederhana
kelebihan E-learning ialah memberikan fleksibilitas, interaktivitas, kecepatan,
visualisasi melalui berbagai kelebihan dari masing-masing media.
Namun sebagai catatan, e-learninng tetaplah produk manusia yang masih ada kekuranganya.
Kekurangan E-learning (Nursalam, 2008:140) diantaranya sebagai berikut :
1. Kurangnya interaksi antara pengajar dan pelajar atau bahkan
antar pelajar itu sendiri.
2. Kecenderungan mengabaikan aspek akademik atau aspek sosial
dan sebaliknya membuat tumbuhnya aspek bisnis/komersial.
3. Proses belajar mengajar cenderung ke arah pelatihan dari pada
pendidikan.
4. Berubahnya peran pengajar dari yang semula menguasai teknik
pembelajaran konvensional, kini juga dituntut mengetahui teknik pembelajaran
yang menggunakan ICT (information, communication, dan technology).
5. Tidak semua tempat tersedia fasilitas internet ( mungkin hal
ini berkaitan dengan masalah tersedianya listrik, telepon, ataupun komputer).
6. Kurangnya sumber daya manusia yang menguasai internet.
7. Kurangnya penguasaan bahasa komputer.
8. Akses pada komputer yang kurang memadai dapat menjadi
masalah tersendiri bagi peserta didik.
9. Peserta didik bisa frustasi jika mereka tidak bisa mengakses
grafik, gambar, dan video karena peralatan yang tidak memadai.
10. Informasi dapat bervariasi dalam kualitas dan akurasi
sehingga penduan dan fitur pertanyaan diperlukan.
11. Peserta didik dapat merasa terisolasi.
DAFTAR PUSTAKA
Nursalam dan Ferry Efendi. 2008. Pendidikan dalam Keperawatan. Jakarta:
Salemba Medika.
Salemba Medika.
(https://1582-5114-1-SM.pdf)Muntinah, Dwi. Penerapan Metode E-Learning Dan Layanan Sirkulasi Sebagai
Model Pembangunan Digital Library.
Minggu, 12 Februari 2017
tugas terstruktur 1
1. Menurut
cognitive theory of multimedia learning bahwa ada tiga asumsi utama yang
dijadikan acuan dalam merancang suatu multimedia pembelajaran. Jelaskan ketiga
asumsi tersebut dengan memberikan contoh masing-masing media yang relevan untuk pembelajaran kimia.
jawaban:
Mayer mengemukakan teori pembelajaran dengan berdasarkan tiga asumsi,
yakni:
1. Asumsi dual kanal, yang menyatakan bahwa manusia menggunakan kanal pemrosesan
informasi
terpisah yakni untuk informasi yang disajikan secara visual dan
informasi yang disajikan secara
auditif. Pemrosesan informasi terjadi dalam
tiga tahap. Pertama, informasi memasuki sistem pemrosesan informasi baik
melalui kanal visual maupun melalui kanal auditif. Kedua, informasi informasi
ini kemudian diproses secara terpisah tetapi bersamaan di dalam memori kerja ( working memory), di mana isyarat tutur (speech) yang bersifat auditif maupun gambar (termasuk di dalamnya video) dipilih
dan ditata. Kemudian, tahap ketiga, informasi dari kedua kanal tersebut disatukan dan dikaitkan dengan informasi lain yang telah
tersimpan di dalam memori jangka panjang. Tahap ketiga inilah yang
bertanggungjawab mengenai bagaimana informasi yang sama bisa diinterpretasi
secara berbeda oleh masing-masing pembelajar.hal ini disebabkan karena pengalaman
belajar yang dimiliki oleh masing-masing pembelajar tidaklah sama.
2. Asumsi keterbatasan
kapasitas, yang menyatakan adanya keterbatasan kemampuan manusia memproses
informasi dalam setiap kanal pada satu waktu. Dalam satu sesi presentasi,
audiens hanya bisa menyimpan beberapa informasi visual (gambar, video, diagram,
dsb) dan beberapa informasi tutur (auditif ). Asumsi inilah yang mendasari riset dan teori yang disebut teori beban
kognitif (cognitive load theory). Meskipun beban maksimal tiap individu bervariasi, beberapa
penelitian menunjukkan bahawa rata-rata manusia hanya mampu menyimpan 5-7
‘potongan’ informasi saja pada satu saat.
3. Asumsi pemprosesan aktif, yang menyatakan
bahwa manusia secara aktif melakukan pemprosesan kognitif untuk mengkonstruksi
gambaran mental dari pengalaman-pengalamannya. Manusia tidak seperti tape recorder yang secara pasif merekam informasi melainkan secara
terus-menerus memilih, menata, dan mengintegrasikan informasi dengan
pengetahuan yang telah dimilikinya. Hasilnya adalah terciptanya model mental
dari informasi yang tersajikan. Ada tiga proses utama untuk pembelajaran secara
aktif ini, yakni: pemilihan bahan atau materi yang relevan, penataan
materi-materi terpilih, dan pengintegrasian materi-materi tersebut ke dalam
struktur pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Proses ini terjadi di dalam
memori kerja yang terbatas kapasitasnya
Gambar 1. Teori kognitif tentang multimedia learning (Mayer, 2009:68)

Contoh media yang dapat digunakan dalam pembelajaran kimia yaitu pada materi struktur atom dimana pada materi ini merupakan materi pertama pembelajaran kimia yang harus dikuasi oleh peserta didik. peserta didik yang baru pertama kalinya belajar mengenai model atom mereka tidak bisa memahami materi bila pengajar hanya menyajikan informasi secara auditif saja. mereka belum mampu menerka bagaimana wujud dari model-model atom tersebut karena belum pernah mempelajarinya. oleh karena itu, pengajar haruslah mengkombinasikan desain pembelajran mereka secara auditif dan juga secara visualagar siswa mampu mengolah informasi dengan baik.
2. Jelaskan
bagaimana teori dual coding dapat diadaptasikan dalam menyiapkan suatu multimedia
pembelajaran kimia
jawaban:
Teori dual coding yang dikemukakan
Allan Paivio(1971) menyatakan bahwa informasi yang
diterima seseorang diproses melalui salah satu dari dua channel, yaitu channel verbal seperti teks dan suara, dan channel visual (nonverbal image) seperti diagram, gambar, dan animasi. Kedua channel ini
dapat berfungsi baik secara independen, secara paralel, atau juga
secara terpadu bersamaan. Kedua channel informasi tersebut memiliki karakteristik yang berbeda. Channel verbal memroses informasi secara berurutan sedangkan channel nonverbal memroses informasi secara bersamaan (sinkron) atau paralel.
Teori dual coding
mengidentifikasi tiga cara pemrosesan informasi, yaitu:
1. pengaktifan langsung representasi verbal
atau piktorial,
2. pengaktifan representasi verbal oleh
piktorial atau sebaliknya
3. pengaktifan secara bersama-sama
representasi verbal dan piktorial.
Sedangkan Mayer
(2003) mengintegrasikan teori dual coding ini ke dalam model SOI (Selecting
Organizing Integrating) dalam pemrosesan informasi. Hal terpenting yang dinyatakan oleh
teori muatan kognitif adalah sebuah gagasan bahwa kemampuan terbatas memori kerja, visual maupun auditori,
seharusnya menjadi pokok pikiran ketika
seseorang hendak mendesain atau menyiapkan sesuatu multimedia pembelajaran.
Langganan:
Komentar (Atom)
